Buat kawan2 yg pernah jadi aktivis macam gua ini, pasti engeh ada yg berbeda di aksi mahasiswa kali ini. Gw bukan mau bahas kontennya yaa kali ini. Isunya buanyak banget emang, mulai dari ruu kpk, rukhp, ruu pks, ruu ketenagakerjaan, dll. justru karena isunya banyak, akhirnya aksi ini menyatukan begitu banyak kemarahan dan kegelisahan banyak pihak. Tp kali ini, gw cuman mau coba fokus ke para peserta aksi massa kali ini.

Kalo lo perhatikan, foto2 yg bertebaran di socmed, lo akan lihat begitu ‘variatif’-nya peserta demo-nya. Kalo yg pria mungkin tak terlalu nampak perbedaannya, namun para demonstran wanita-nya jelas banget kontrasnya dibading demo2 mahasiswa sebelumnya, minimal selama gw jadi mahasiswa dulu yaa.

Variasi mahasiswinya kali ini macem2, mulai dari cewe2 yg pake kerudung, dengan berbagai ‘jenis’-nya hingga sampe yg ga pake kerudung. Gw bukan mau men-judge ‘cover’ seseorang ya, don’t get me wrong! Gw cuman mau coba share analisis ini yg juga coba gw konfirmasi ke beberapa veteran aktivis lain, dan mereka juga meng-amini pengamatan gw ini.

Anyway, banyak dari para mahasiswi yg turun kali ini, sepintas pengamatan gw: banyak dari mereka berasal dari kubu non-konservatif, kubu liberal atau kiri dari varian mahasiswa di kampus. Biasanya, mahasiswi tipikal ini tuh punya ‘tongkrongan’ yg berbeda dgn massa yg berada di sayap kanan. Mereka2 yg di sayap kiri biasanya berkumpul di kantin2, tempat latihan seni, baik itu musik, tari, teater, dll-nya atau tempat2 olahraga (futsal, basket, dll). Di sisi lain, ‘tongkrongan’ anak2 sayap kanan biasanya diasosiasikan dengan anak2 musholla, dakwah kampus, tarbiyah atau kalo mau lebih straightforward/spesifik yaitu para kader2 PKS. Kedua kubu ini biasanya ‘berantem’ tiap lagi pemilihan ketua2 bem di kampus2.

Di sini lah fenomena yg paling menarik gw lihat dari demo #reformasidikorupsi kali ini. Buanyak anak2 yg turun, sekali lagi berdasarkan foto2 yg berseliweran di socmed, gw perhatikan adalah anak2 kiri. mereka2 yg biasanya paling enggan atau bahasa kerennya ‘apatis’ untuk turun ke jalan, panas2an, demo ke dpr/istana di siang hari bolong. Kalo boleh gw tebak2 buah manggis, di atas kertas mayoritas anak2 kiri ini sepertinya memilih jokowi ketika pilpres terakhir.

Jika hipotesa gw ini benar, maka demonstrasi ini justru memiliki daya kritik yg luar biasa dahsyat baik itu ke jokowi maupun parlement, khususnya PDIP sebagai partai penguasa utama. Yg kedua, jika hipotesa gw benar, maka aksi ini juga menegasikan kontra-isu yg disebarluaskan oleh para buzzer2 pemerintah yg mencoba men-spin bahwa aksi kali ini ditunggangi oleh oknum2 tertentu yg sakit hati lantaran kalah pilpres, yg tidak ingin jokowi dilantik oktober nanti, bahkan mengkudeta jokowi. Inilah mengapa kontra-narasi buzzers ini pun tidak akan berhasil, karena banyak dari mereka yg turun ke jalan kemarin dan hari ini adalah mereka2 yg memilih jokowi sebagai presiden mereka.

Inilah juga mengapa, menjadi awkward moment bagi para aktivis maupun mantan aktivis mahasiswa yg berasal dari kubu kanan untuk menanggapi aksi ini. Karena di satu sisi, kubu kanan gatel mau bergabung menghajar jokowi dan rezim kali ini, tapi di sisi lain, ada beberapa isu di aksi ini yg kurang pas bagi mereka, khususnya di isu rkhup dan ruu pks. Ini juga letak menariknya aksi kali ini.

Prediksi gw, jika situasinya tetap seperti ini, pemerintah tetap bersikeras mau mengesahkan semua ruu ini, pada akhirnya, baik sayap kiri maupun kanan gerakan mahasiswa dan aliansi masyarakat lainnya akan bersatu karena ‘the enemy of your enemy is my friend’. Jika ini terjadi, di titik inilah pemerintah akan benar2 dalam masalah yg super sulit. Mari kita saksikan episode berikutnya, hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!

Salam,
Dzulfian S. – yg pernah juga beberapa kali nyobain demo kayak kalian di depan dpr.
24092019