Jumatan kemarin (16/03/2018), Khatib di Masjid Durham bahas pentingnya ‘faham’, ilmu dan akal dalam memaknai islam. Tanpa ketiga hal tsb, muslim dapat salah mengartikan islam dan boleh jadi justru menyulut perseteruan sesama muslim.
Dalam ceramahnya, Sang Khatib, yang juga merupakan dosen bahasa arab gw selama satu term belakangan, memberikan contoh bagaimana tata cara wudhu saja seringkali dapat menjadi peletuk konflik salah-salahan ‘you are wrong!’ sesama muslim. Si Khatib mengingatkan: bagaimana bisa, kita menyalahkan kepercayaan, keyakinan atau tata cara orang lain tanpa mengetahui alasan di balik kenapa mereka melakukan hal tsb?
Sebagai contoh, tata cara wudhu, khususnya ketika membasuh rambut/kepala tidak jarang menjadi awal mula salah-salahan sesama muslim. padahal, Sang Khatib mengingatkan bahwa perbedaan pendapat dalam menerjemahkan Al Maidah (5): ayat 6 memang terjadi di kalangan ahli tafsir sendiri, lantas, dia lanjut berkata: kenapa kita berani-beraninya menyalahkan yang lain? Apakah kita sudah mempelajari argumen orang lain? Cover both, three, four, all sides?
Lebih menarik lagi, Sang Khatib kemudian lanjut menjelaskan bahwa perbedaan penafsiran ini ‘hanya’ lantaran satu huruf saja dalam ayat tersebut yaitu ‘bi (بِ)’ (lihat gambar). Dalam kelas bahasa arab yg gw ikuti, Sang Khatib pernah menjelaskan makna dan bagaimana menggunakan preposisi ‘bi’ dalam bahasa arab. Sebagaimana banyak preposisi lain, ‘bi’ juga dapat berubah arti dan makna tergantung konteks keseluruhan kalimat/paragraf. Namun, secara umum, lanjut dia menjelaskan, bahwa ‘bi’ lazim digunakan untuk menyambungkan dua hal ‘when we mix 2 things’, begitu kata dia dalam bahasa inggris.
Mengingat begitu flexiblenya penggunaan preposisi ‘bi’ ini dalam bahasa arab, wajar jika para ahli tafsir pun berbeda pendapat dalam memahami Al Maidah(5): ayat 6. Menafsirkan dan mengajarkan Qur’an tentu bukan perkara mudah. Selain mesti paham betul, bahasa dan budaya arab, pemahaman atas konteks dan sejarah (asbabun nuzul) diturunkannya berbagai ayat pun barang wajib bagi para ahli tafsir untuk menafsirkannya dengan tepat.
Seketika gw pun jadi teringat bagaimana pesan Ustad Dr. Saiful Bahri, ahli IT alias ‘ilmu tafsir’ (hehehe) lulusan Al Azhar dalam pengajian muslim se-UK di Sheffield November lalu: ‘hati-hati dalam memahami Qur’an melalui translasi, kadang ada beberapa ayat yang diterjemahkan kurang pas’.
Cara Sang Khatib dan Ustad Saiful mendakwahkan islam dengan menjelaskan tafsiran kalimat per kalimat, kata per kata, bahkan huruf per huruf, paling masuk di hati dan akal gw pribadi. Sepertinya dakwah seperti ini harus makin diperbanyak, khususnya jika hendak menyasar orang-orang yang berpendidikan tinggi atau yang telah bernalar dengan baik.
Bagi gw pribadi, mendengarkan ceramah model seperti ini serasa sedang bernostalgia bagaimana mengikuti ceramah-ceramah Prof. Quraish Shihab dulu sebelum sahur dan berbuka di Metro TV. Mungkin memang itulah cara dakwah para ahli tafsir: runut logika, taat methodologi, dan pemahaman konteks yang matang, persis seperti pesan Professor pembimbing gw dalam menganalisis data dalam penelitian qualitatif:
‘as long as the argument is logic, coherent, built by rigorous method and strong data, you will be fine, your argument is valid’.
Dzulfian Syafrian
Durham. Sabtu, 17 Maret 2018
