Siapa itu generasi milenial? Sebenarnya, tidak ada aturan baku dalam mendefinisikan siapa yang dimaksud dengan generasi milenial. Namun demikian, banyak laporan dan penelitian biasanya menggunakan batasan umur sebagai patokan utama dalam pengkategorian ini. Sebagai contoh, PwC (2013) dan EY (2015), dua perusahaan konsultan kenamaan dunia, mengkategorikan milenial atau sering pula disebut dengan ’Generasi Y’ sebagai orang-orang yang lahir di era 1980-an dan 1990-an. Mereka lahir dari pasangan ’Generasi X’ atau ’Baby Boomers’ yang lahir pasca perang dunia kedua, khususnya di era 1950-an dan 1960-an.
Terminologi antara ’Milenial’ versus ’Baby Boomers’ atau ’Generasi X’ versus ’Generasi Y’ memang bertujuan untuk membandingkan kedua generasi ini. Setidaknya ada dua kondisi atau perbedaan utama generasi ini yang patut diperhatikan, yaitu globalisasi dan digitalisasi.
Milenial dan Globalisasi
Ketika Barat, khususnya Amerika Serikat (AS) dan Inggris Raya mengalami krisis ekonomi di penghujung 1970-an, Margarater Thatcher-Perdana Menteri Inggris dan Ronald Reagan-Presiden AS di era 1980-an, menelurkan ide ’Neoliberalisme’ sebagai solusi krisis. Periode ini kebetulan bersamaan dengan gelombang pertama lahirnya bayi-bayi milenial ke dunia.
Inti dari neoliberalisme adalah pembebasan atau liberalisasi berbagai aspek kehidupan, khususnya di bidang sosial, ekonomi dan politik. Produk nyata neoliberalisme yang mungkin paling berpengaruh adalah globalisasi, yaitu ’proses dimana berbagai bisnis atau organisasi lainnya mengembangkan pengaruh internasionalnya atau mulai beroperasi dalam skala internasional’ (Oxford Dictionary).
Sebelum maraknya globalisasi di era 1980-an, batas satu negara dengan negara lain memang relatif jauh lebih ketat dan rigid. Dalam konteks ekonomi, negara-negara pada saat itu lazim menerapkan kebijakan yang bernuansa proteksionis.
Melindungi pasar domestik dan industri dalam negeri dengan membangun ’tembok’ perdagangan internasional, seperti tarif dan kuota, marak dimana-mana. Hambatan perdagangan ini diterapkan oleh berbagai negara sebagai proteksi atas serbuan barang-barang impor dan perusahaan asing yang ditakuti akan menguasai pasar domestik dan mematikan industri lokal. Penghapusan, pembebasan atau liberalisasi berbagai aktivitas ekonomi antar negara ini lah yang kemudian menjadi ide dasar globalisasi.
Banyak negara, kini telah mereduksi bahkan mengeliminasi berbagai hambatan perdagangan internasional mereka dengan negara lain, khususnya yang berupa tarif dan kuota. Selain itu, liberalisasi tidak hanya terjadi di ekspor-impor saja tetapi juga di sektor investasi dan tenaga kerja.
Proses globalisasi ini difasilitasi oleh berbagai lembaga internasional, seperti WTO, IMF dan Bank Dunia. Lahirnya berbagai perjanjian perdagangan bebas (free trade agreeents/FTAs), baik sifatnya bilateral atau multilateral, adalah agenda nyata globalisasi.
Proyek Uni Eropa yang menyatukan aktivitas ekonomi, bahkan politik, negara-negara Eropa adalah bentuk globalisasi yang paling ’kaffah’ (komprehensif) dimiliki dunia saat ini. Uni Eropa tidak hanya membebaskan perdaganan barang dan jasa antara anggotanya tetapi juga liberalisasi di bidang investasi dan tenaga kerja (free movement of goods, services, capital and labour).
Tarif dan kuota dihilangkan, investasi asing digalakkan, integrasi pasar dilakukan, dan mobilitas manusia dipermudah adalah ciri utama globalisasi dimana Uni Eropa telah melakukan itu semua. Oleh karena itu, adalah hal yang lumrah di Eropa jika tetangga sebelah berasal dari lintas negara Eropa lainnya, terlebih di kota-kota besar Eropa, seperti London atau Paris.
Banyak negara lain kemudian meniru proyek Uni Eropa ini di wilayah mereka. Dalam konteks Indonesia, proyek yang mungkin paling dikenal adalah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Pembebasan visa bagi seluruh masyarakat ASEAN jika hendak berkunjung ke negara ASEAN lainnya adalah salah satu langkah konkrit mengintegraskan regional ini.
Konsekuensinya, mobilitas orang-orang ASEAN, termasuk orang Indonesia tentunya, menjadi lebih mudah dan murah. Kini, jangan heran jika tiket Jakarta menuju Kuala Lumpur, Singapura, atau bahkan Hanoi lebih murah ketimbangan Jakarta-Jayapura. Jangan heran pula jika orang-orang Indonesia, khususnya para milenial, memilih berwisata ke negara-negara ASEAN atau bahkan Jepang dan Korea Selatan, ketimbang wisata domestik.
Lantaran dibesarkan di era globalisasi, generasi milenial menjadi lebih ’go global’ dibanding generasi sebelumnya. Kasus Brexit di Inggris adalah contoh terbaik dalam menggambarkan fenomena ini. Ketika Referendum Brexit terjadi, sebagian besar milenial adalah para pendukung Inggris tetap di Uni Eropa (pro-globalisasi). Di sisi lain, mayoritas yang menuntut Inggris untuk keluar dari Uni Eropa (kontra globalisasi) adalah para generasi tua angkatan ‘baby boomers’.
Milenial dan Dunia Digital
Selain globalisasi, generasi milenial juga identik dengan dunia digital. Meledaknya teknologi internet beserta turunannya, khususnya ponsel cerdas (smart phone), berperan besar dalam membentuk perilaku para milenial.
Di era digital seperti saat ini, akses terhadap informasi menjadi lebih murah dan cepat. Sebagai konsekuensi, banyak aktivitas dan transasksi ekonomi menjadi lebih efisien. Generasi milenial, yang notabene (jauh) lebih melek teknologi dibanding generasi sebelumnya, merupakan pasar terbesar sekaligus pemanfaat utama industri berbasis digital.
Sebagai contoh, dulu sebelum era belanja online, konsumen harus datang ke toko jika hendak berbelanja. Kini, cukup dengan membuka ponsel genggamnya, barang yang diinginkan konsumen dapat diantar ke depan pintu hanya dengan membayar sekitar Rp10.000,-. Dengan kata lain, dengan bantuan teknologi digital, konsumen dapat menghemat waktu, biaya transportasi dan biaya lainnya.
Teknologi digital juga membantu konsumen dalam mengomparasi harga antara satu penjual dengan penjual lainnya. Konsekuensinya, harga yang terbentuk di pasar menjadi sangat kompetitif yang tentunya sangat menguntungkan bagi konsumen. Selain itu, teknologi digital juga mendorong variasi harga dan kualitas barang. Alhasil, konsumen menjadi lebih leluasa dalam memilih barang yang sesuai dengan kantong dan selera mereka.
Dampak signifikan teknologi digital juga sangat terasa dalam meningkatkan utilitas aset-aset yang sebelumnya kurang dimanfaatkan secara ekonomis. Lahirnya platform seperti Uber, Go Car, atau Grab Car membantu para pemilik mobil dalam memanfaatkan aset mereka. Hal serupa juga terjadi di sektor properti. Fasilitas yang ditawarkan oleh Airbnb telah membantu para pemilik rumah atau apartemen dalam memanfaatkan kamar-kamar kosong yang mereka miliki.
Harga-harga yang mereka tawarkan pun biasanya lebih kompetitif dibanding pesaing tradisional mereka, plus dengan tawaran fasilitas yang tidak kalah menarik. Jadi, jangan heran jika konsumen, khususnya para milenial, kemudian beralih dari jasa taksi atau hotel konvensional, ke platform digital seperti Uber atau Airbnb.
Mengelola (Ekonomi) Milenial
Singkat kata, globalisasi dan digitalisasi adalah dua hal yang berperan besar dalam membentuk perilaku generasi milenial. Kedua faktor ini tidak mungkin dipisahkan dari mereka yang tumbuh-besar-dewasa di era ini, era yang jelas-jelas berbeda dibanding generasi sebelumnya. Oleh karena itu, model bisnis dan kebijakan-kebijakan yang dihasilkan ke depan juga tidak mungkin disamakan dengan generasi sebelumnya.
Tidak hanya Pemerintah, para pengusaha lokal juga harus berbenah menghadapi gelombang globalisasi dan digitalisasi. Pola pikir ‘think globally, act locally’ berbasis digital harus diterapkan betul-betul dan sesegera mungkin. Karena, tidak mungkin rasanya melawan gelombang perubahan ini.
Dzulfian Syafrian,
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF),
Kandidat Doktor Durham University Business School
Tulisan ini terbit di Majalah Gatra Edisi 31 January-7 Februari 2018, dalam rubrik khusus ‘Gelombang Baru Milenialnomics’-
Terima kasih untuk Randi Swandaru atas kedua gambar di atas versi cetaknya.

